Dalam hal lain, bisa juga menggambarkan orgasme yang tidak sekuat atau tidak terjadi sesering yang seorang wanita inginkan. Anorgasmia tidak hanya dapat terjadi pada wanita, namun juga pria. Anorgasmia disebut juga dengan disfungsi orgasme.
Trejo menegaskan bahwa bahwa orgasme bukanlah isu psikologis atau mental, melainkan "sepenuhnya fisik".
Pria mungkin saja mengalami klimaks tanpa ejakulasi atau ejakulasi tanpa klimaks, tetapi biasanya kedua hal ini terjadi bersamaan.
De modo a ahli sepakat bahwa tidak ada posisi tertentu dalam hubungan seksual yang paling mujarab bagi perempuan untuk mencapai klimaks.
Sebagian orang bisa mengalami orgasme dengan cepat dan mudah dengan hubungan seksual, sedangkan yang lainnya membutuhkan lebih banyak waktu dan tenaga.
Bahkan, orgasme juga membantu untuk mengurangi rasa sakit akibat penetrasi. Hal ini bisa memicu orgasme yang lebih intens dari biasanya.
Selain itu, bisa juga dilakukan pemeriksaan ultrasound atau tes darah untuk memeriksa kondisi hormon atau medis lain yang mungkin berkontribusi terhadap hal tersebut.
Ejakulasi mampu memperkuat keintiman dengan pasangan. Kondisi ini bisa terjadi karena tubuh melepaskan hormon oksitosin dan prolaktin secara maksimal.
Multiple orgasms: A person can experience a series of orgasms over a short time. Masters and Johnson note that females have a shorter refractory (recovery) period, which allows them to experience multiple orgasms in a shorter period of time.
Women are held back from enjoying orgasms by a variety of factors, including discomfort with their body or genitals, reluctance to “return the benefício” of oral sex, not enough time spent warming up sexually, and old-fashioned sexual scripts that prioritize male orgasm.
Diagnosis anorgasmia dilakukan dildo duplo setelah pengkajian gejala dan diskusi tentang riwayat seksual. Diskusi yang dilakukan dengan penyedia layanan kesehatan akan membantu untuk memperjelas apa penyebab dasar terjadinya anorgasmia.
The hormone testosterone is highly active in enhancing male sexual desire and arousal. When a man’s testosterone levels are low, it’s harder to achieve orgasm.
[31] Another study found that homosexual men displayed similar hypothalamic activation to that of heterosexual women when smelling a testosterone derivate present in male sweat, suggesting that sexual orientation plays a role in how humans experience olfactory sexual stimulation.[32]
Apart from body parts exclusive to one gender such as the penis or clitoris, many of the erogenous zones are similar and contain many nerve endings.